dulcanea: awsumlicious @ lj (Default)
[personal profile] dulcanea
MAMPUSLAH SAYA

Brace yourselves it's here!1!11!!!

“P-pergi lo, anj-anjir!”

“Ngga mau. Lo udah bandel sama gue. Gue mau ngehukum lo,”

“Woooy! Jangan main-main lo sama—”

“Lho, siapa bilang gue main-main?”

“Nggak mu—eeh!”

*

“Dimas!” Terdengar suara seorang lelaki, Galih namanya. Memanggil kawannya yang sedang berjalan.

“Apa?” Jawabnya acuh, berhenti sejenak untuk membenarkan dasi.

“Tadi gue dapet pengaduan dari murid-murid… Err, Intania sih… katany—” Galih—si Wakil Ketua Osis—berhenti berucap, berpikir. Mencari kata terbaik untuk menjelaskan keadaan.

“Apaan sih, Udin-Reno jotos-jotosan lagi?” Dimas, atasannya, menjawab kesal. “Bodo amat lah kalo mereka doang mah, tinggal kita suruh bersihin kamar mandi lagi.”

“Bukan, bukan mereka…” Galih memijat dahunya. “Beda lagi kasusnya.”

“Ya apa? Siapa? Kenapa?”

“…katanya di gedung olahraga…”

Dimas terkekeh sebelum Galih berhasil menyelesaikan kalimatnya, seakan sudah mengetahui apa yang Galih maksud.

“Oh, itu. Biarin aja lah. Bilangin aja ke murid-murid, jangan ada yang deket-deket ruangan itu dulu. Paham?” Kata Dimas sambil mengibaskan tangan.

“Tapi—”

*

Johan, lelaki berkacamata yang tidak bisa olahraga. Mungkin terpengaruh stereotipe yang berkata bahwa para pengguna kacamata lemah di aspek tersebut (kecuali Midorima), tapi itu bukan urusan saya. Pokoknya, ia kini sedang berada di ruang ganti gedung olahraga sekolahnya bersama seorang kakak kelas kenalannya yang bertampang lumayan, dari klub radio…

Sialnya, Johan baru saja bertengkar dengannya, kini membuatnya kesal.

“Jangan bengong saja kamu!” Nico menyalak kesal. Siswa kelas dua tersebut berdiri dua meter dari pintu keluar, mengetuk lantai dengan kakinya. “Kalau ada orang sedang bicara, dengarkan! Masa gitu saja ngga bisa.”

Johan yang duduk di kursi tepat di seberang Johan hanya bisa terdiam sambil menatap sepatu olahraga Nico, tidak tahu harus berbuat apa. Ini pertama kalinya Johan melihat Nico sekesal ini—sehari-harinya Nico merupakan kakak kelas yang ramah dan murah senyum, terutama kepada Johan dan sepupu jauhnya, Yohana. Saking baiknya, Johan tidak sadar bahwa ucapannya tadi membuat Nico marah.

Ternyata Kak Nico bisa marah juga, ya, pikir Johan menyesali nasib. Marahnya begini pula…

“Heh, baru juga dibilangin, sudah melamun lagi… sedang ada saya disini!” Nico menyentak jiwa Johan, lagi. Gaya bicaranya berubah, Johan menyadari. “Padahal saya sudah meluangkan waktu untuk bantu kamu disini. Saya tanya sekarang, kamu tahu tidak kenapa saya marah?”

“Err, karena saya… ngacangin Kakak?” Johan menatap Nico sambil meringis, memelas.

“Oooh, jadi kamu benar-benar mengabaikan saya?!” Nico mengeraskan suaranya, menatap Johan tajam. Ouch.

Johan menunduk lagi, kini memfokuskan diri pada kakinya yang belum memakai sepatu (Nico datang sebelum Johan sempat bebersih diri habis olahraga).

“Saya kan cuma menyangkal kakak sedikit…” Gumam Johan, terdengar sedikit menyesal.

Nico menghela napas panjang, masih kesal dengan adik kelasnya semenjak SMP tersebut. Matanya menatap Johan, yang meskipun terdengar menyesal, masih memasang tampang keras kepalanya yang menyebalkan.

“Dasar…” Nico berjalan beberapa langkah, maju.

Kesempatan kabur…

“…Kamu jangan berpikir bisa keluar, ya. Lari saya tiga kali lebih cepat daripada kamu.” Memberi peringatan, Nico berkacak pinggang—membuyarkan harapan Johan.

Nico berhenti tepat di depan Johan, menatapnya galak. Air mukanya sedikit berubah, Nico sedang mempertimbangkan sesuatu.

“Kak… Nico?” Johan meliriknya takut-takut.

Nico akhirnya sudah menentukan sikap. Kedua tangannya meraih kedua lengan Johan, lalu membungkuk.

Nico terkenal playboy.

Ng—Nico!” Johan mengerang ketika kakak kelasnya tersebut menggigit ujung hidungnya, meninggalkan kata “Kakak”. “Ngap—ain?”

“Heh, mana ‘Kak’-nya…” Nico berbisik sambil memainkan kerah kaos Johan.

“Jangan macem-macem—!” Johan mencoba mendorong Nico. Gagal, tentu saja, karena badan Johan masih lebih kuat daripada Nico. “O-oi…”

Mengabaikan Johan, Nico mengangkat satu tangannya untuk perlahan melepas kacamata adik kelasnya tersebut. Matanya menatap Johan yang terbelalak—ngerikah, kagetkah? Apapun itu, Nico merasa sedikit bangga.

Diletakannya alat bantu penglihatan tersebut dengan cepat, sebelum mendaratkan bibirnya ke mata kiri Johan (yang tentu saja, langsung menutup dengan cepat)—seakan hendak memangsa bola matanya.

“Uhh, Nico—!”

“Hmm?” Jawab Nico menggumam, sambil menjulurkan lidah sedikit, hendak merasakan kulit Johan. Bereksperimen. “Johan, asin.”

“Uhm—! Jelaslah, g-gue aja belum bebersih!” Johan mengerang lagi, badannya merinding merasakan lidah hangat Nico di kulitnya. “P-pergi, Nico…”

“Ngga mau.” Nico menarik diri, senyuman kecil terulas. Jari telunjuk dan jari tengahnya bermain di bibir Johan yang wajahnya sudah memerah. “…Ini hukuman dari gue.”

“N-Nico—mmm!” Johan mendesah pelan ketika kedua jari Nico memasuki mulutnya, mencapai lidahnya dan mengeksplornya penuh rasa penasaran. “Ngh—ngggh—ugh…”

Nico memejamkan matanya sebelum menyandarkan dagunya kepada kepala Johan, menghela napas sekali lagi—kini karena puas.

“Ya, bagus. Suara lo… gue pengen denger lagi.” Desisnya berbahaya sambil menekan lidah Johan. Terkejut, Johan mengerang lebih kencang. Tangan kirinya mencengkeram kemeja Nico, sedangkan tangan kirinya mulai bergerak ke punggung kakak kelasnya tersebut. “Ya… begitu,”

Waktu berlalu, meninggalkan jejak berupa suara ‘klik, klik’ pelan dari jam analog hitam di ruang ganti tersebut. Namun tidak halnya dengan kedua jari Nico di lidah Johan.

“Mmmh—ahh—Ni-Nico—tolong—hhh…” Johan masih memanggil namanya, desahannya meminta. ‘Tolong, hentikan’ atau ‘tolong, lebih?’

“Ahhh,” Nico bersuara pelan mendengar Johan menyebut namanya. “Suaramu… sungguh, aku suka,”

“C-cuk-cuk—”

Suara Johan terputus. Telapak tangan Nico membungkam mulutnya, tangan satunya merengkuhnya erat. Menariknya berdiri, dan mendorongnya ke belakang loker—menjatuhkannya lembut, dan mengurung tubuh Johan diantara tubuhnya yang lebih kuat. Matanya menatap mata Johan yang menatapnya kaget.

*

“Asep ada?” Dimas bertanya kepada seorang anak perempuan di kelas adik kelasnya itu. Si perempuan mengangguk, memanggilkan Asep sebelum menyilakan diri ke luar kelas.

“Kak Dim! Ada apa?” Dengan senyum Asep menyapa Dimas, sebelum jidatnya bertemu dengan jemari panjang Dimas yang menyentilnya.

“Seenaknya aja lo motong nama gue!” Asep menukas, sembari menambahkan sebuah jitakan.

“Yaudah sih, cuma kurang “mas” doang.” Ujar Asep sambil meringis. “Ada apa, Kak?”

“Gue pinjem kunci sekolah yang serincing. Komplit ya.” Dimas melotot melihat Asep yang meringisnya makin lebar. “Apa ketawa-tawa? Ilang ya?”

“Enggak, Kak. Cuma labelnya aja pada ngelopek. Hehe.” Lelaki yang lebih muda tersenyum minta maaf. “Bentar ya, Kak.”

Dimas mengangguk sambil menggumam, “gue nunggu di luar, deket loker”—Asep berbalik, menuju tasnya. Bersandar pada jejeran loker siswa di kelas Asep, ia menghela napas panjang.

“Lho, Kak Dim?”

“Apa sih Kak Dim-Kak Dim!” Si Ketos menyalak, sebelum menyadari bahwa yang memanggilnya adalah Oktavia—Otep—yang sedang berdiri di hadapannya. “Oh, sori.”

“Nggak apa-apa, Kak.” Otep tertawa riang sambil nyengir. “Habis di-“Kak Dim”-in Asep, ya.”

“Ya. Ditambah elo pula. Capek.”

“Ngapain nyari Asep? Dia bikin masalah lagi?” Tanya Otep sambil membenarkan posisi lembaran kertas yang sedang dipegangnya dengan dua tangan. “Turunin saja dari jabatan Keamanan. Nggak guna.”

“Yee, ada juga harusnya elo yang ngasih pelajaran buat Asep!” Dimas menukas, lagi. “Gue minta kunci sekolah.”

Mulut Otep membulat, sebelum keduanya terdiam. Dimas melirik tumpukan kertas yang dibawa Otep.

“Itu mau dibawa ke ruangan gue, kan? Sini, gue aja yang bawa. Sekalian.” Kata Dimas sambil membaca kertas paling atas—itu proposal?

“Oh? Yaudah nih, makasih Kak—itu, Asepnya.” Tambah Otep sambil menggerakkan kepalanya kearah kiri. “Duluan ya, Kak.”

Dimas mengangguk sambil menata ulang kertas-kertas tersebut. Asep menghentikan langkahnya, tepat di hadapan Dimas.

“Nih. Perlu apa lagi, Kak Dim...” Lirikan berbahaya dari Dimas membuat Asep melanjutkan kata-katanya. “…as?”

“Nih. Kertasnya… simpen di meja si Galih di ruang OSIS. Cepet ya.” Dimas menyeringai melihat Asep yang menganga mulutnya.

“Loh kok—!”

Sebelum Asep selesai memprotes, Dimas sudah menyodorkan tumpukan berat tersebut, sebelum dengan cepat berjalan meninggalkan adik kelasnya dan tertawa riang.

“Hidup ini indah ya… apalagi ketika elo seorang ketua OSIS.”

 

Laknat, memang… seperti penulisnya.

Expand Cut Tags

No cut tags

Profile

dulcanea: awsumlicious @ lj (Default)
dulcanea

Most Popular Tags

Style Credit

Page generated Feb. 7th, 2026 02:51 am
Powered by Dreamwidth Studios
June 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 2013